Sungai di Arktik Berwarna Merah Dampak dari Tumpahan Diesel

Sungai di Arktik Berwarna Merah Dampak dari Tumpahan Diesel

Sungai di Arktik Berwarna Merah Dampak dari Tumpahan Diesel

Sungai di Arktik Berwarna Merah Dampak dari Tumpahan Diesel,- Lingkungan Siberia rusak parah akibat tumpahan diesel lebih dari 20.000 ton. Hal ini mengakibatkan sungai Ambarnaya yang berada di dekatnya berwarna merah.

Pada 29 Mei, sebuah tangki diesel dari sebuah pabrik industri nikel di kota Siberia, Norilsk bocor. Perusahaan itu bernama Nornickel. Pabrik nikel terbesar di dunia. Terkait kejadian ini, pihak Nornickel mengatakan bahwa kebocoran tangki diesel karena strukturnya rusak akibat pencairan permafrost.

Baca juga: Fenomena Alam di Cano Cristales, Sungai yang Memiliki Lima Warna (

Menurut pemberitaan media lokal TASS, mereka mengklaim lapisan es yang mencair menyebabkan dasar beton tangki diesel bocor. Tak lama setelah kebocoran terjadi, ada kecelakaan mobil di dekat tumpahan diesel yang akhirnya menyebabkan kebakaran.

“Retaknya beton tangki diesel membuat kami percaya bahwa ada sesuatu terjadi di tanah. Mungkin pencairan lapisan es,” kata Sergey Dyanchenko, wakil presiden pertama dan direktur operasi Norilsk Nickel.

Permafrost merupakan tanah yang membeku selama dua tahun atau lebih. Beberapa permafrost membeku selama ratusan ribu tahun. Karena dampak perubahan iklim, banyak permafrost yang awalnya stabil kini mulai mencair dan menyebabkan banyak masalah.

Mulai dari infrastruktur yang rusak hingga pelepasan karbon berlebih. Bahkan jika terjadi pemanasan global di bawah 2 derajat Celsius, sekitar 25 persen permafrost akan mencair pada 2100. Hal ini menurut Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPCC) PBB.

Kendati demikian, sejumlah aktivis lingkungan tidak percaya klaim Nornickel yang mengatakan bahwa mencairnya lapisan es adalah biang masalah dalam insiden ini.

Memang terjadi perubahan iklim yang mengakibatkan pencairan lapisan es di wilayah tersebut. Namun, Greenpeace Rusia berpendapat bahwa klaim itu hanya alasan untuk menghindari pertanggungjawaban insiden tersebut.

Greenpeace mengatakan, perusahaan seharusnya sudah menyadari masalah tersebut. Pasalnya, sebuah laporan yang terbit tahun 2009 secara khusus memperingatkan bagaimana pencairan lapisan es di wilayah Norilsk akan memengaruhi infrastruktur minyak dan gas.

Sementara itu, skala kerusakan menjadi semakin jelas. Dilansir IFL Science, Senin (8/6/2020), tumpahan diesel menyebar di area seluas 180.000 meter persegi, mengalir ke sungai, dan masuk ke dalam tanah hingga kedalaman lima sentimeter.

Air di kawasan Norilsk juga dilaporkan ada di atas 60 kali konsentrasi maksimum zat berbahaya yang diizinkan. Operasi pembersihan telah berlangsung sejak awal pekan lalu. Diduga, buntut dari masalah lingkungan ini akan terus menghantui wilayah tersebut selama beberapa dekade ke depan Daftar IDN Poker 77 Online.

Direktur proyek Greenpeace Rusia, dalam sebuah pernyataan mengatakan, total kerugian dari masalah ini bisa mencapai lebih dari 6 miliar rubel atau setara Rp 1,2 triliun. “Dan ini tanpa memperhitungkan faktor-faktor yang meningkat,” tambahnya.

Baca juga: Menumpuk di Pulau Ini, Kotoran Penguin Bisa Menghasilkan Gas Tertawa

Sungai Ambarnaya adalah anak sungai penting dari Laut Kara dan telah diidentifikasi sebagai indikator iklim utama dalam hal mengukur karbon yang dilepaskan dari tanaman dan bahan tanah di Kutub Utara, menurut NASA Earth Observatory.

Uni Soviet pernah membuang limbah nuklir dan material ke laut dangkal dekat Novaya Zemlya. Namun laporan tahun 1992 yang diterbitkan oleh Badan Energi Atom Internasional menemukan bahwa kebocoran dari limbah yang dibuang adalah kecil, dengan dosis yang dapat diabaikan jika dibandingkan dengan yang berasal dari sumber alam.

 

Sumber: IFL Science, kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *