“Petai Raksasa” Itu Entada rheedii, Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Obat

“Petai Raksasa” Itu Entada rheedii Bukan untuk Konsumsi Tapi untuk Obat

“Petai Raksasa” Itu Entada rheedii, Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Obat

“Petai Raksasa” Itu Entada rheedii, Bukan untuk Konsumsi, Tapi untuk Obat,- Pada Minggu (15/3) siang lalu, para pemuda yang tergabung dalam Organisasi Pemuda Pingit (Oppi) Desa Panawaren, Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara, Jawa Tengah yang diketuai Agus Suwarto berangkat menuju wilayah perbukitan sekitar kawasan Cagar Alam Pringamba.

Tujuannya adalah untuk melakukan reboisasi. Sebab, setiap musim kemarau, wilayah setempat kerap mengalami kekurangan air, sehingga mumpung masih pada musim penghujan, pemuda setempat melakukan penghijauan.

“Kami memang sengaja berangkat pada Minggu, ketika banyak pemuda libur. Waktu itu, sejumlah pemuda berangkat ke wilayah perbukitan yang jaraknya sekitar 7 km dari pemukiman. Pada saat melakukan reboisasi, kami melihat ada pohon merambat di pohon yang lebih besar, ternyata tengah berbuah. Buahnya mirip sekali dengan petai. Sehingga awalnya, kami mengira ini adalah petai rakasasa atau petai jumbo,” jelas Agus.

Ia mengatakan pohon yang merambat itu ketinggiannya bisa sampai 12 meter dengan merambat pada pohon besar. “Karena kami penasaran, maka para pemuda sepakat untuk memetiknya dan membawa pulang ke rumah. Ada yang kemudian mengunggah ke media sosial, sehingga langsung viral. Orang-orang kemudian menyebutnya dengan petai jumbo atau raksasa,” ungkapnya.

Agus menjelaskan jika pohon tersebut berada di kawasan Cagar Alam Pringamba 2, bukan di kawasan hutan milik Perhutani.

“Kalau kawasan Cagar Alam kan menjadi kewenangan dari Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA). Setidaknya ada tiga pohon yang kami temukan di kawasan setempat. Lokasinya memang berada di hutan lindung yang masih bagus,” ujarnya.

Buah yang dibawa Agus dan para pemuda, panjangnya mencapai 1,2 meter atau lima kali lipat pohon petani. Karena viral, kata Agus, maka banyak warga yang bertanya-tanya, bahkan kemudian pemerintah dan BKSDA langsung melakukan pengecekan di lapangan.

baca juga : Penelitian: Jahe Merah dan Jambu Biji Potensial Tangkal Corona

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (Dintankan) Banjarnegara, Totok Setya Winarna mengatakan sebetulnya pohon tersebut sudah lama dikenal oleh warga. Tetapi karena ada keterangan mengenai petani raksasa, maka menjadi viral di masyarakat.

“Setelah viral, kami langsung terjun ke lapangan di Desa Panawaren, Sigaluh. Ternyata memang buah tersebut bukanlah petai. Sehingga, kami meminta kepada masyarakat untuk tidak mengonsumsinya. Sebetulnya, warga telah mengenal pohon itu. Bukan penemuan baru, karena kalau masyarakat menyebut bahasa lokalnya adalah Gongseng atau Gandu,” jelas Totok.

Ia mengatakan bahwa pohon dengan nama latin Entada rheedi tersebut memiliki buah hampir mirip dengan petai.

“Pohon Entada merpakan tanaman langka yang tumbuh di hutan. Buahnya memang sangat mirip dengan petai, namun rasanya tidak seperti petai. Sebab, rasanya pahit dan getir. Karena itu, warga tidak boleh mengonsumsi atau memasaknya,” tegasnya.

Sementara Kepala Resort Konservasi BKSDA Jateng wilayah Wonosobo, Adi Antoro, mengungkapkan setelah viral terutama di media sosial, maka pihaknya bersama tim terjun ke Cagar Alam Pringamba.

“Lokasi penemuan pohon tersebut berada di pinggiran Cagar Alam Pringamba 2 di Desa Panawaren. Ternyata, pohon itu memang bukan petai atau Parkia speciosa, namun Entada rheedii. Dua spesies tersebut masuk dalam satu suku Fabaceae atau polong-polongan. Tetapi keduanya memang berbeda. Petai banyak disukai orang karena memang dapat dimakan. Namun, untuk Entada atau nama lokalnya Gonseng, sejauh ini bukan untuk dikonsumsi. Manfaatnya juga belum diketahui, tetapi barangkali setelah ini akan menarik para pakar untuk melakukan riset,” jelas Adi.

Menurutnya, ada beberapa pohon Entada yang ditemukan di kawasan Cagar Alam seluas mencapai 64 hektare yang terdiri dari dua lokasi Cagar Alam Pringamba 1 dan Pringamba 2.

“Dengan adanya Entada rheedii yang viral tersebut, maka pihaknya akan melindungi pohon itu, karena menjadi salah satu cirikhas di Cagar Alam Pringamba.

Padahal sebetulnya, pohon khas di sini adalah plalar atau meranti Jawa (Dipterocarpus littoralis),” katanya.

Adi mengakui Cagar Alam Pringamba yang berada di Kecamatan Sigaluh, Banjarnegara itu masih memiliki banyak keanekaragaman hayati di dalamnya.

“Terus terang, kami belum melaksanakan identifikasi seluruhnya. Baru ada beberapa pohon dan tanaman yang telah teridentifikasi. Mungkin saja, banyak tanaman dan pohon yang termasuk langka. Misalnya, untuk pohon Entada itu,” ujarnya.

BKSDA juga mengajak kepada masyarakat terutama di sekitar Cagar Alam Pringamba untuk terus menjaga dan melestarikan apa yang ada di tempat tersebut. Selain kekayaan flora, ada juga fauna yang ada di Cagar Alam Pringamba.

“Salah satu kekayaan fauna yang ada di situ adalah berbagai jenis burung. Tetapi, kami juga belum mengidentifikasi, burung apa saja berada di Pringamba. Tetapi satu hal, lingkungan hutan di sini harus terus dijaga, supaya keanekaragaman hayati tidak punah,” tambahnya.

Baca Juga : Taman Bambu, Penyelamat Mata Air Sekaligus Tempat Wisata Edukasi

Potensi Obat

Nama Entada rheedii sering ditulis dengan E. rheedei untuk menghormati Hendrik Adriaan van Rheede tot Draakestein (1637–1691), seorang ahli botani asal Belanda.

Sejak dulu, Entada telah digunakan untuk pengobatan tradisional di Afrika. Bahkan, tanaman ini dipakai sebagai bahan salep untuk bisul, sakit gigi, penyakit kuning, dan mengobati otot bermasalah. Bahkan, beberapa suka percaya kalau bijinya untuk keberuntungan bagi pemiliknya.

Sementara dalam riset oleh Mona M Okba dkk dari Fakultas Farmasi, Universitas Cairo Mesir dengan jurnal berjudul “Entada rheedii seeds thioamides, phenolics, and saponins and its antiulcerogenic and antimicrobial activities” yang diterbitkan Journal of Applied Pharmaceutical Science tahun 2018 lalu, menyebutkan, bahwa biji Entada rheedii memiliki aktivitas antiulcerogenik dan antimikroba yang kuat. Ini menjelaskan penggunaan tradisionalnya dalam pengobatan sakit perut dan sebagai antimikroba.

“Pohon yang masuk suku Fabaceae tersebut biasa ditemukan di hutan tropis Asia, Afrika Timur, Australia dan kepulauan di Samudra Hindia,”sebut penelitian tersebut.

Sedangkan dalam jurnal lainnya, World Journal of Pharmaceutical Research yang terbit tahun 2017, ahli farmasi dari India, Rekha R Deokar dkk menyebutkan jika Entada rheedii menjadi alternatif untuk bahan obat berbagai penyakit seperti diare, penyakit kuning dan gondong.

Kandungan lainnya adalah saponin, senyawa glikosida amfipatik yang dapat mengeluarkan bisa jika dikocong dengan kencang dalam larutan, sehingga bisa dimanfaatkan untuk pengganti sabun.

“Di Tanzania, kulit kayunya dipakai untuk obat kudis. Dan di Asia, kulit kayunya dapat dimanfaatkan untuk pereda rasa sakit dan gatal,”sebut riset tersebut.

Hanya saja, di Indonesia, Entada rheedii sepertinya masih belum banyak yang melakukan risetnya. Barangkali setelah viral disebut sebagai “petai raksasa” akan banyak ahli yang penasaran melakukan riset agar dapat dimanfaatkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *