Mbah Rasimun, Pelestari Seni Payung Kertas Asal Malang

Mbah Rasimun, Pelestari Seni Payung Kertas Asal Malang

Mbah Rasimun, Pelestari Seni Payung Kertas Asal Malang

Mbah Rasimun, Pelestari Seni Payung Kertas Asal Malang – Dengan usianya yang tidak muda lagi. Tahun 2020 ini, Rasimun atau yang akrab disapa Mbah Rasimun genap berusia 96 tahun. Meskipun sudah hampir mendekati satu abad, Mbah Rasimun masih semangat menceritakan awal-awal dirinya mulai menggeluti seni payung kertas.

Bahkan, dirinya juga terlihat cekatan saat memberikan contoh Agen Sbobet88 Indonesia kepada sejumlah ibu-ibu yang belajar membuat payung kertas di Gedung Dewan Kesenian Malang, Jumat. Sesekali dirinya juga masih melemparkan guyonan kepada ibu-ibu untuk sekadar mencairkan suasana.  

1. Mulai membuat payung sejak 1945 

Mbah Rasimun menceritakan, dirinya mulai membuat payung kertas pada 1945. Saat itu, ada 15 kepala keluarga asal Sidoarjo yang mengungsi ke daerah tempat tinggalnya, di kawasan Lowokpadas, Pandanwangi, Kota Malang.
Kemudian warga yang mengungsi tersebut menjadi insiprasi bagi dirinya untuk mulai membuat payung berbahan kertas. Setelah para pengungsi tersebut kembali, Rasimun kemudian menekuni seni membuat payung kertas atau yang biasa disebut payung muto itu.
“Tidak hanya saya, tetapi warga lain di daerah tempat tinggal saya juga ikut membuat payung kertas ini,” ceritanya.

2. Sebagai alat perlindungan untuk berjuang  

Pada awal dirinya mulai menggeluti seni payung kertas, Mbah Rasimun tak langsung menjualnya. Keahliannya itu dimanfaatkan untuk perlindungan dari pasukan Belanda. Pasalnya, pada saat itu,Mbah Rasimun merupakan salah satu pejuang gerilyawan Indonesia.

Saat siang, ia akan menjadi pembuat payung kertas untuk mengelabui pasukan Belanda. Sementara malam harinya ia ikut bergerilya untuk memburu pasukan Belanda yang berada di Malang.

“Kalau ketemu pasukan Belanda, saya bilang hanya warga biasa pembuat payung. Tapi, malamnya saya ikut gerilya mengusir Belanda,” tambahnya.

3. Sempat berhenti membuat payung 

Dalam perjalanannya, Mbah Rasimun sempat berhenti membuat payung kertas. Tepatnya saat pemberontakan PKI pecah. Saat itu, payung kertas buatannya sulit dipasarkan. Terlebih saat itu anak-anaknya masih kecil dan perlu biaya untuk kehidupan.

Akhirnya, Rasimun menjadi pengayuh becak agar bisa menyambung hidup. Setelah masa pemberontakan PKI berakhir, Rasimun kembali menggeluti seni payung kertas lagi yang terus ia kerjakan sampai sekarang.

“Setelah pemberontakan PKI, anak-anak saya sudah besar. Saat itu saya berpikir untuk kembali menggeluti seni payung kertas lagi,” sambungnya.

4. Tetap produksi payung kertas  

Kini, saat usianya sudah tak lagi muda, ketika tubuhnya sudah renta, Mbah Rasimun masih tetap eksis memproduksi payung kertas. Menurutnya, payung berbahan kertas memiliki nilai historis tersendiri jika dibandingkan dengan payung modern yang berbahan besi dan plastik.
Selain itu, payung berbahan kertas dinilai lebih ramah lingkungan lantaran bahan yang digunakan semuanya alami. Penyangga utama dan kerangka payung menggunakan bambu. Proses perakitannya ditali dengan benang nilon. Setelah itu, baru dipasang kertas sebagai penutupnya.
“Harga payung ini kisaran Rp35 ribu untuk yang kecil dan Rp50 ribu yang besar,” jelasnya.

5. Kesulitan mencari penerus dan pelestari payung kertas 

Mbah Rasimun mengakui, saat ini dirinya kesulitan untuk mencari penerus pembuat seni payung dari kalangan muda. Pasalnya, anak muda saat ini tak begitu tertarik dengan seni tradisional tersebut. Padahal, payung kertas tersebut merupakan karya orisinal dari Indonesia.

“Sebenarnya saya ingin ada anak muda yang mau melestarikan ini. Tetapi, sekarang memang tidak banyak yang mau dan tertarik membuat payung kertas ini,” pungkasnya.