Letusan Gunung Berapi yang paling Bersejarah

takbnoa - Letusan Gunung Berapi yang paling Bersejarah

Gunung – Aktivitas dari sebuah gunung berapi memang sangat berbahaya. Letusannya mampu membuat kerusakan parah dengan berbahgai napa yang dumuntahkannya, seperti lahar, awan panas, abu vulkanik, gas beracun, hingga pada pemicu stunami.

Sejarah mencatatb bahwa ada banyak letusan gunung berapi yang memiliki dampak kehancuran yang tinggi, bahkan hingga ke seluruh penjuru Bumi. Bahkan ada beberapa letusan gunung berapi yang beberapa kali jauh lebih besar dari bom atom, bahakn dibandingkan dengan Tsar Bomba sebagai ledakan nuklir terbesar yang pernah dibuat oleh manusia.

Akibat letusan gunung berapi sangat buruk, seperti kobarn jiwa, gagal panen, klerusakan alam, hingga hancurnya peradaban.

Berikut ini adalah daftar beberapa letusan gunung berapi yang memiliki dampak paling besar terhadap dunia sepanjang sejarah peradaban manusia.

Baca juga : 4 Fenomena Alam Unik Di Dunia

1. Thera, Yunani (1645-1500 SM)

Walaupun tidak ada catatan tertulis mengenai letusan gunung Thera, beberapa pakar geologi sepakat bahwa itu adalah peristiwa ledakan paling besar dalam sejarah dunia, yang mungkin menyebabkan munculnya legenda kota Atlantis yang tenggelam.

Sementara waktu letusan tidak diketahui pasti, gunung Thera terletak di pulau Santorini yang merupakan bagian dari kepulauan vulkanik di laut Aegea.

Dengan mengamati aliran abu di dasar lautan, para arkeolog membuat kesimpulan bahwa besarnya letusan gunung Thera melebihi apa pun yang pernah dilihat manusia dengan energi ledakan sebesar beberapa ratus bom atom dalam sepersekian detik.

Saking besarnya, peradaban kuno Minoa yang pernah ada di kawasan Mediterania tersebut telah musnah ditelan bencana vulkanik tersebut. Amukan Thera telah merusak semua peradaban yang tersisa di pulau terdekat yaitu pulau Kreta dengan hempasan tsunami setinggi 150 kaki.

Penurunan suhu udara juga terjadi karena sejumlah besar sulfur dioksida yang dimuntahkannya ke atmosfer sehingga mempengaruhi iklim.

2. Vesuvius, Italia (79 M)

Gunung berapi ini terkenal karena telah menghancurkan seluruh kota Pompeii dan beberapa kota Romawi di sekitarnya.

Gunung yang terletak di sebelah timur Napoli di negara Italia ini bertanggung jawab secara langsung atas meninggalnya lebih dari ribuan orang. Hanya ada 1.500 mayat yang ditemukan pada arkeolog di dekat Pompeii dan Herculaneum, sehingga jumlah total korban meninggal tidak pernah dihitung.

Gunung Vesuvius adalah stratovolcano yaitu gunung yang tinggi, curam, struktur kerucut karena letusan eksplosif secara berkala dan umumnya ditemukan di mana salah satu lempeng bumi berada di bawah yang lain, menghasilkan magma di sepanjang zona tertentu.

Letusan gunung Vesuvius pada tahun 79 M ini menciptakan awan masif batu dan abu hingga sepanjang 20 mil ke langit. Energi thermal yang dilepaskan Vesuvius 100.000 kali lebih besar dari ledakan bom atom di Hiroshima. Panas yang hebat dari letusan ini pada dasarnya merebus perairan teluk terdekat (disebut aliran piroklastik hidrothermal) yang membunuh 16.000 orang.

Gunung Vesuvius masih meletus beberapa kali sejak kejadian tahun 79 M dan sekarang hampir 3 juta orang tinggal di sekitarnya.

3. Laki, Islandia (1783 M)

Islandia adalah negara pulau di barat laut Eropa yang memiliki sejarah panjang letusan gunung berapi, salah satunya adalah letusan gunung Laki. Letusan ini memuntahkan gas-gas vulkanik yang menyebar ke Eropa.

Di Inggris, banyak orang meninggal karena keracunan gas. Kerusakan tanaman yang luas dan matinya hewan ternak membuat Islandia mengalami kelaparan yang menyebabkan kematian seperlima populasi, menurut Smithsonian Institution’s Global Volcanism Program.

Letusan gunung Laki juga mempengaruhi iklim dunia, karena partikel-partikel yang dikeluarkannya ke atmosfer menghalangi sebagian sinar matahari yang masuk.

4. Tambora, Indonesia (1815M)

Letusan gunung Tambora di pulau Sumbawa ini memiliki nilai 7 pada Indeks Ledakan Vulkanik, tertinggi yang pernah tercatat dalam sejarah peradaban manusia (Letusan Thera dan Vesuvius terlalu “zaman dahulu” untuk dinilai).

Letusan mencapai puncaknya pada bulan April 1815 M dan terdengar hingga Pulau Sumatera yang berjarak 1.930 km jauhnya. Korban jiwa letusan Tambora diperkirakan berjumlah 71.000 orang

Letusan Tambora sangat kuat dan besar sehingga mampu mempengaruhi iklim dunia. Akibatnya tahun berikutnya disebut sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas”. Pendinginan global tidak hanya menghilangkan suatu musim untuk sementara, tetapi juga sangat berdampak buruk pada pertanian dunia.

Namun letusan Tambora sendiri tidak benar-benar membuat dunia berada pada Zaman Es mini. Masa itu merupakan puncak dari pendinginan iklim yang berlangsung selama berabad-abad, dan Tambora hanya mempercepat sedikit.

Wilayah New England (sekarang bagian dari Amerika Serikat) dan Eropa Barat di belahan Bumi utara adalah yang paling terkena dampak suhu dingin. Adanya salju tercatat pada 6 Juni 1816 di Maine, New England, yang seharusnya memasuki musim panas pada bulan tersebut.

Embun beku semalam di seluruh New England begitu konsisten sehingga tak ada tanaman pertanian yang bisa tumbuh dan harga biji-bijian serta jagung naik karena kegagalan panen yang begitu banyak.

Di Eropa Utara, banyak keluarga yang terpaksa keluar dari Wales untuk mencari makanan, yang pada dasarnya menjadi pengungsi di wilayah lebih selatan. Kegagalan panen di pantai timur Amerika memaksa banyak keluarga untuk pergi ke barat dan mempercepat tumbuhnya pemukiman di wilayah tersebut.

Jika ada sisi positif letusan Tambora, itu adalah tephra (pecahan batu yang dilepaskan dalam letusan gunung berapi) di atmosfer yang menyebabkan matahari terbenam dengan pemandangan yang luar biasa indah.

5. Krakatau, Indonesia (1883 M)

Hampir 70 tahun setelah letusan Tambora, salah satu gunung berapi di Indonesia (Hindia Belanda saat itu) kembali mengguncang dunia dengan letusan Krakatau. Puncak letusan terjadi pada tanggal 26-27 April. Gunung Krakatau terletak di sepanjang busur pulau vulkanik di zona subduksi lempeng Indo-Australia.

Seperti letusan lainnya, letusan Krakatau diawali dengan munculnya kepulan asap dan terjadi gempa bumi kecil. Kemudian, terjadi ledakan yang sangat keras yang dapat terdengar hingga 2.800 mil jauhnya di Australia.

Letusan Krakatau mengirim awan puing setinggi 15 mil ke udara. Ruang magma pecah dan membiarkan air laut bersentuhan dengan lava panas yang terbakar. Hal ini menimbulkan semburan uap panas berlebih yang bergerak dengan kecepatan lebih dari 60 mil per jam.

Awan abu dan puing-puing membuat langit menjadi gelap selama tiga hari. Tsunami juga terjadi dengan ketinggian maksimum 40 meter yang menyapu pesisir pantai Banten dan Lampung.

Letusan Krakatau menewaskan lebih dari 36.000 orang, membuatnya menjadi salah satu ledakan paling mematikan dalam sejarah. Selain itu, letusan Krakatau mempengaruhi iklim seluruh Bumi dengan pola cuaca global tidak kembali normal selama lima tahun.

Krakatau memang hancur total dalam letusan tersebut, namun pada Desember 1927 muncul Anak Krakatau di pusat kaldera sebelumnya.

6. Novarupta, Alaska (1912)

Novarupta terletak di rantai gunung berapi di Semenanjung Alaska, bagian dari cincin api Pasifik, yang menimbulkan ledakan vulkanik terbesar di abad ke-20. Novarupta mengeluarkan magma dan abu sebanyak 12,5 km kubik ke udara yang jatuh menutupi area seluas 7.800 km persegi dengan kedalaman lebih dari satu kaki.

Ledakannya begitu kuat, sehingga mengeringkan magma dari bawah gunung berapi lain. Gunung Katmai yang berjarak sekitar 6 mil, puncaknya runtuh membentuk kaldera sedalam setengah mil.

7. Pinatuba, Filipina (1991 M)

Gunung Pinatubo di Filipina meletus dengan dahsyat pada tahun 1991. Awalnya terjadi letusan kecil, tetapi saat magma cair mencapai permukaan, Pinatubo memuntahkan lebih dari 1 mil kubik puing-puing setinggi 22 mil ke udara.

Pasir, abu, dan batu apung menghantam pedesaan dan jalur awan abu dari Pinatubo yang berjalan ke seluruh dunia dapat dilacak oleh satelit. Letusan Pinatubo menyebabkan lapisan ozon menipis pada level bahaya yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Jutaan ton sulfur dioksida dan partikel lain dari letusannya menyebar ke seluruh dunia dan menyebabkan suhu global turun 0,5 derajat Celcius selama tahun berikutnya.

Longsoran abu berapi mengalir ke lembah di sekitar Pinatubo dan merusak strukturnya. Puncak Pinatubo benar-benar runtuh dan membentuk kawan selebar 1,6 mil. Deposit di sekitar Pinatubo masih mempertahankan panasnya hingga hari ini.

Jika endapan bersentuhan dengan air, maka dapat menyebabkan ledakan dan awan abu panas. Karena Pinatubo berada di wilayah angin muson, hembusan angin dapat membawa abu dan puing-puing yang terbakar ke tempat yang lebih jauh.

Walaupun terdapat 350 orang korban jiwa dalam peristiwa letusan ini, sebagian besar dari mereka tidak meninggal karena kepanasan atau aliran lava. Sebagian besar meninggal karena tertimpa atap yang runtuh.

Dari semua peristiwa letusan yang telah terjadi, maka sudah menjadi peringatan dari Tuhan bagi manusia agar selalu memperhatikan, mempelajari, dan merawat alam dengan baik dan benar.

Sumber : idntimes.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *