Kerajinan Pahat Batu di Muntilan

Kerajinan Pahat Batu di Muntilan

Kerajinan Pahat Batu di Muntilan

Kerajinan Pahat Batu di Muntilan – Magelang saat ini menjadi kota wisata yang semakin banyak jadi objek wisatawan lokal dan mancanegara.

Selain keberadaan Candi Borobudur sebagai daya tarik utama, Magelang juga memiliki beragam destinasi menarik.

Mulai dari budaya, kuliner tradisional, pemandangan alam yang memukau, situs-situs purbakala sampai aneka pusat kerajinan yang tak ditemukan di tempat lain.

Masyarakat pemburu benda kuno dan peninggalan zaman purba di Indonesia kini boleh sedikit lega. Karena, untuk memperoleh benda-benda kuno, mereka tak perlu pergi ke luar negeri, namun cukup datang ke jalur Magelang-Yogyakarta terutama di Desa Taman Agung, Muntilan.

Di sepanjang jalan tersebut, masyarakat dapat dengan mudah menemukan kios-kios hasil kerajinan pahat batu hitam. Demikian pengamatan SCTV, baru-baru ini.

Kerajinan pahat batu hitam merupakan keterampilan peninggalan zaman purba yang sampai saat ini masih ditekuni sebagian besar warga Muntilan, Jawa Tengah.

Tak heran bila warga setempat secara beramai-ramai menekuni dan menggantungkan hidupnya dari seni pahat batu hitam. Mereka menjual pahat batu hitam dalam berbagai corak dan jenis.

Menurut seorang perajin, Eko Handoko, hampir semua warga di Desa Taman Agung, sudah turun temurun membuat dan menjual pahat batu hitam.

Pada awalnya, mereka memang cuma membuat patung yang bercirikan agama Buddha dan Hindu, seperti Ganesha, Dewa Syiwa, dan Trimurti.

Hal ini wajar saja sebab seni pahat memang sangat berhubungan erat dengan kedua agama tersebut seperti yang terlihat di Candi Borobudur.

Tetapi, belakangan hari, warga setempat juga mulai mengusahakan benda-benda keperluan sehari-hari, seperti cobek, lumpang, kijing untuk makam, dan lampu taman.

Kedekatan lokasi Desa Taman Agung dengan Gunung Merapi membuat warga kian gampang mengembangkan seni pahat. Soalnya, warga bisa menyuplai bahan batu hitam dari Gunung Merapi.

Eko mengatakan, hanya dengan mengambil sendiri atau membeli batu hitam dari Merapi seharga Rp 750 ribu per meter kubik. Para perajin bisa membuat patung yang harganya mencapai Rp 9 juta.

Itulah sebabnya, seni pahat batu hitam tetap menjadi pilihan dan terus berkembang luas. Hingga mencapai daerah Blabag sebelah utara Candi Borobudur.