Fenomena Arab Saudi Turun Salju

83efb363-7b0d-4714-8e2b-6842f221d519_169

Fenomena Arab Saudi Turun Salju

Fenomena Arab Saudi Turun Salju – Jika mendengar negara Arab Saudi pasti yang terlintas di benak adalah haji, unta, dan gurun pasir. Seperti negara Timur Tengah lainnya, Arab Saudi juga identik dengan gurun pasir dan udaranya yang panas. Bahkan hujan menjadi fenomena yang cukup jarang terjadi.

Tapi baru-baru ini negara terbesar di dunia yang tidak memiliki sungai ini tampak bersalju. Walaupun bukan yang pertama kali, fenomena ini tetap menjadi fenomena yang langka di Arab Saudi. Fenomena turunnya salju di Arab Saudi juga pernah terjadi pada tahun 2016, 2018, dan juga baru-baru ini salju turun di Tabuk, Arab Saudi.

Salju turun di Tabuk sejak 10 Januari 2020 dan menjadi sorotan media seluruh dunia. Tabuk adalah sebuah provinsi yang dihuni oleh sekitar 500 ribu penduduk dan berbatasan dengan Yordania. Wilayah ini terletak cukup jauh dari ibu kota Riyadh dengan jarak sekitar 14 ribu km.

Selain Tabuk, Madinah juga pernah mengalami hujan salju pada 2016 lalu. Sekarang ini suhu di negara penghasil minyak terbesar ini berada di bawah 10 derajat celsius. Berikut 7 potret langka Arab Saudi bersalju lebat yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Jumat (17/1/2020).

Kawasan Arab Saudi yang tidak seluruhnya berada di ekuator membuat salju mampir ke wilayah itu. Sebab, hanya bagian bumi yang berada di garis ekuator yang tidak akan mengalami musim salju.

“Apalagi Tabuk ini mengarah ke Yordania, agak lebih ke utara,” ujar Mulyono.

Di sisi lain, Mulyono membenarkan fenomena turun salju di Arab Saudi terkait dengan perubahan iklim hingga pemanasan global. Dia berkata kedua hal itu membuat perubahan cuaca menjadi ekstrim.

Fenomena turun salju di Tabuk sendiri terkait dengan perubahan musim akibat posisi Bumi terhadap Matahari. Saat ini, posisi matahari tengah berada di belahan bumi selatan. Sehinga, Tabuk yang ada di Aplikasi IDN Poker Terbaru posisi sekitar 27 derajat lintang utara memang memasuki musim dingin.

“Matahari sedang berada di belahan bumi selatan. Sehingga belahan bumi utara sedang dalam kondisi musim dingin,” tuturnya.

Perubahan musim ini juga menyebabkan sirkulasi cuaca yang ada di lingkar kutub utara bergerak ke arah selatan.

Dia berkata desakan udara dari kutub utara tersebut berpotensi menimbulkan polar vortex. Ini adalah istilah yang menjelaskan fenomena pertumbuhan awan di lintang tinggi. Pertumbuhan awan di lintang tinggi ini bukan dalam bentuk hujan, tetapi dalam salju.

“Kalau di ekuator atau daerah panas itu ketika butiran air di salju itu turun mestinya dalam bentuk cairan, yaitu air hujan. Tapi karena suhu lingkungan dalam kondisi dingin maka ini bisa dalam bentuk salju,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *