Asal Mula Perang Tomat di Lembang

Asal Mula Perang Tomat di Lembang

Asal Mula Perang Tomat di Lembang: Kesedihan dan Kesenian

Asal Mula Perang Tomat di Lembang – Tak hanya Spanyol, Bandung Barat juga punya tradisi perang tomat. Begini sejarah dan makna filosofisnya. Tradisi perang tomat di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, sudah berlangsung sejak 2012.

Kegiatan tersebut rutin diselenggarakan tiap tahun saat awal bulan Muharam. Begini sejarah perang tomat di lokasi tersebut.

Bukan Spanyol yang punya festival perang tomat tahunan. Di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, ada juga festival serupa dengan La Tomatina Spanyol. Tradisi yang digelar saban tahun itu dikenal nama Rempug Tarung Adu Tomat atau perang tomat.

Seperti halnya La Tomatina, perang tomat di Lembang juga memiliki asal-usul dan makna filosofis mendalam. Tomat busuk yang digunakan sebagai senjata untuk melempar, dimaknai membuang sifat busuk manusia.

Perang tomat ini rutin digelar sejak 2012 di Kampung Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat sebagai bentuk rasa syukur akibat melimpahnya hasil panen tomat warga sekitar.

“Perang tomat pada awalnya adalah wujud paduan ungkapan kreasi seni di balik penderitaan masyarakat petani tanaman tomat. Dari ketidakberdayaan situasi rendahnya penghargaan terhadap hasil panen, menjadi ekspresi semangat, kegembiraaan dan wujud syukur telah diberikan air yang melimpah kepada warga yang diwujudkan dalam bentuk kesenian,” ungkap pencetus perang tomat sekaligus budayawan lokal, Mas Nanu Muda atau biasa dikenal Abah Nanu.

“Kegiatan ini juga sekaligus mengenalkan potensi seni-budaya, alam, dan hasil pertaniannya lewat wisata budaya kreatif, yang oleh penari dan atraksinya melibatkan penonton menjadi bagian integral dari Daftar 918Kiss sajian Perang Tomat,” tuturnya.

1. Panen tomat di tengah anjloknya harga pasar

Setahun berjalan, pada 2011 kebetulan ditemukan potensi yang memantik ide perang tomat. Di Kampung tersebut, para pelaku seni yang juga berprofesi mayoritas petani tomat tengah memanen tomat. Namun, panen tomat pada waktu itu dirasakan tidak seperti biasanya. Hasil panen memang melimpah dan tomat-tomat yang dihasilkan berkualitas, namun raut para petani tomat menggambarkan kesedihan.

“Tampaknya mereka kecewa dengan harga tomat yang jatuh di bawah standar harga biasa, dan secara materi tidak menghasilkan keuntungan yang layak untuk dijadikan sumber penghasilan selebihnya. Balik modal saja enggak,” papar Abah Nanu.

Selain harga tomat yang anjlok di pasaran, para petani juga mengeluhkan harga angkut dari kebun ke pengepul dinilai cukup mahal. Tak hanya itu, perhitungan bibit dan pupuk pun tidak sesuai dengan keuntungan yang petani terima. Merasa tidak ada keuntungan yang didapat, para petani memilih melakukan pembiaran tomat-tomat di kebun.

2. Dari derita ke ‘Rempug Tarung Adu Tomat’

Abah Nanu mengatakan, dirinya mencoba membawa suasana duka para petani sedikit melepaskan kesedihan yang dialami dengan menggelar kegiatan bersama. Abah nanu mengemasnya dalam bingkai seni pertunjukan untuk menciptakan kebahagiaan bersama.

“Dari kondisi petani yang menderita akibat panen tomat dengan harga yang jatuh serta dibiarkan berserakan di kebun itulah muncul ide untuk membuat kagiatan Rempug Tarung Adu Tomat atau perang tomat ini,” jelas Abah.

3. Makna filosofis perang tomat

Abah mengatakan, tomat busuk yang dipakai juga mengandung makna filosofis. Menurutnya, tomat busuk yang dilempar berarti membersihkan diri dari hal buruk. Sedangkan aksi saling melempar ke arah wajah yang bertopeng berarti membuang kepalsuan dan sifat tidak terpuji yang dimiliki pada diri manusia.

“Hal ini berkaitan dengan makna ngeruatmiceun reregedgeugeuleuh Keukeumeuh atau menyucikan diri,” paparnya.

Menurut Abah, maksud dan tujuan perang tomat merupakan ekspresi ungkapan membuang sial dari segala macam hal-hal buruk atau sifat yang tidak baik dalam diri masyarakat.

“Jadi sangat berbeda dengan Spanyol baik secara filosofis maupun teknisnya. Saya baru tahu ada perang tomat di Spanyol setelah menggelar perang tomat yang pertama tahun 2012 lalu. Saya tahunya dari berita,” ucapnya.